Ketika Gajah Mada Hidup Kembali

Ketika Gajah Mada Hidup Kembali

Jakarta –Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI bersama tokoh-tokoh nasional lainnya meresmikan Taman Arum Udumbara, Jl Raya Mabes Hankam No 45, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (28/10/2023). Peresmian ini sebagai bagian dari peringatan Sumpah Pemuda. Tak kurang dari 500 undangan berasal dari berbagai kalangan, seperti politisi, pengusaha, pejabat, hingga mantan hakim. Menurut pemrakarsa, Jenderal TNI (purn) Prof Dr Hendropriyono, taman ini merupakan perwujudan dari kejayaan Majapahit pada masa lalu.
       “Kejayaan Majapahit itu perlu ditampilkan kembali melalui miniatur yang telah kami upayakan sebagai bukti bahwa kita adalah bangsa yang besar,” ujarnya dalam pidato yang didampingi oleh sejumlah organisasi sosial. Salah satu organisasi tersebut adalah Forum Diskusi Pancasila yang diwakili oleh Prof Dr Kaelan MS dari Universitas Gadjah Mada.
       Salah satu tamu undangan, Chairul Tanjung menyatakan kekagumanmya atas prakarsa tersebut. “Saya menyambut baik gagasan beliau. Sebab saya mendapatkan pengetahuan yang begitu banyak dari acara ini,” tuturnya di sela-sela acara.
     Acara dimulai sekitar pukul 16:00 dengan sajian tari bedoyo di pelataran pendopo. Tamu undangan kemudian diajak  menuju ke dalam pendopo sebagai salah satu singgasana kerajaan Majapahit. Masing-masing tiangnya  dilapisi emas untuk membuktikan kemegahan. Ketika tamu belum selesai mengagumi bangunan, mereka kemudian diajak masuk ke dalam  “abad ke-14” ketika Majapahit masih berjaya. Bangunan  yang dilapisi dengan karpet merah itu layaknya gedung bioskop tanpa tempat duduk. Masing-masing penonton menyaksikan tarian, film, dan kisah-kisah tentang kemayshuran kerajaan.
      Bukan itu saja. Tamu dibuat ternganga dengan patung para raja Majapahit di dinding. Belum lagi, visualisasi itu makin mencekam  dengan “menghidupkan kembali” mahapatih Gajah Mada. Sang Mahapatih ini berjalan di antara para tamu dengan memangku sebuah gada. Kehidupan sang mahapatih ini semakin membuat para tamu tersentak ketika  menyaksikan rekonstruksi perawakannya.
      “Semula digambarkan di buku-buku pelajaran bahwa perawakan Mahapatih itu gendut dengan pipi tembem. Di sini kami melakukan reinterpretasi perawakan mahapatih yang gagah dan disegani,” ujar Hendropriyono kepada khalayak. Digambarkan sang mahapatih memakai baju besi dengan rambut lurus panjang terurai. Tatapannya tajam dan kumis yang melengkung tapi tegas. Selain Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk bahkan dibuat nyata dalam bentuk patung utuh di depan pintu masuk Taman Arum Udumbara. Ada pula tanaman maja yang menjadi cikal bakal nama Majapahit di kiri kanan pendopo. Selain itu ada makara, bendera Majapahit serta detail ukiran dan air terjun tempat bertapa Sang Mahapatih.
     Rekonstruksi kejayaan Majapahit pada abad ke-14 itu bukan tanpa tujuan. Relevansi bagi kebangsaan Indonesia adalah menghadirkan aksara Jawa di tengah-tengah acara. Ada demontrasi para siswa yang telah mahir menulis aksara Jawa. Siswa-siswa pun dengan cekatan mentranskrip  pernyataan  yang dilontarkan para tamu.
       Atas demonstrasi itu, AM Hendropriyono mendapatkan Rekor Muri untik upayamya menghidupkan kembali aksara Jawa dalam acara ini. Jaya Suprana menyatakan inilah rekor satu-satunya di dunia di dalam bidang aksara Nusantara. (Sai-s)